Time Keeper, Pembeda Wasit Futsal dengan Sepakbola

Pertandingan Futsal tidak menggunakan Injury Time karena telah memiliki Time Keeper

Biarpun akar dari cabang olahraga futsal adalah sepakbola, futsal memiliki beberapa perbedaan signifikan jika dibandingkan dengan sepakbola. Dari mulai lapangan yang digunakan, tatacara permainan hingga sosok pengadil atau pemimpin pertandingan (wasit). Dalam permainan futsal, wasit memegang peran penting seperti pada sepakbola konvensional.

Wasit merupakan sosok yang memegang peranan vital sepanjang jalannya pertandingan. Dalam tugasnya memimpin jalannya pertandingan, wasit tentu mempunyai aturan, wewenang dan tanggungjawab tersendiri.

Dalam sepakbola, suatu pertandingan biasanya dipimpin oleh seorang wasit yang dibantu oleh tiga assisten wasit (dua hakim garis, satu wasit pergantian pemain). Begitu juga dalam futsal, keempat elemen pengadil di lapangan tersebut juga digunakan dalam suatu pertandingan. Hanya saja, sepakbola tidak memiliki ‘Time Keeper’ seperti hal nya futsal.

Pentingnya Wasit dalam Sebuah Pertandingan

Wasit mempunyai peran vital dalam sebuah pertandingan

Wasit mempunyai peran vital dalam sebuah pertandingan

Sebuah pertandingan olahraga pada dasarnya mempertemukan kedua pihak yang berlawanan. Dua pihak tersebut bertanding untuk bisa memenangkan pertandingan tersebut. Memang dalam sebuah peraturan resmi komite diatur tentang tata cara dan tata tertib sebuah pertandingan. Namun sifat alami manusia yang selalu menginginkan kemenangan dalam hal apapun tentu akan membuat kacau suatu pertandingan olahraga.

Oleh karena itu, dalam sebuah pertandingan olaraga dibutuhkan wasit untuk memimpin pertandingan. Ini bertujuan untuk menjadi pennengah, pengadil dan pemimpin suatu laga dengan berada di pihak peraturan. Itulah sebabnya mengapa wasit sebuah pertandingan haruslah bersikap netral dan objektif dalam pengambilan keputusan. Karena wasit yang berat sebelah akan mencemarkan kesakralan sebuah pertandingan olahraga.

Dalam menjalankan tugasnya, seorang wasit harus menguasai beberapa aspek. Selain harus memahami dengan betul aturan akan sebuah pertandingan satu jenis olahraga tertentu, wasit juga diharuskan memiliki kondisi fisik yang baik. Jika tidak, kelelahan saat memimpin sebuah pertandingan (terutama sepakbola dan futsal) sedikit atau banyak akan mempengaruhi pengambilan keputusan yang dilakukannya.

Sosok Time Keeper Yang Menjadi Pembeda Antara Futsal dengan Sepakbola

Pertandingan Futsal tidak menggunakan Injury Time karena telah memiliki Time Keeper

Pertandingan Futsal tidak menggunakan Injury Time karena telah memiliki Time Keeper

Seorang wasit dituntut untuk memiliki ketegasan. Jika terjadi suatu pertandingan berjalan berjalan seperti seharusnya, wasit wajib dan berhak menghentikan pertandingan. Dalam sepakbola, waktu yang digunakan tetap berjalan meskipun wasit sedang menghentikan pertandingan. Hal ini tentu sedikit kurang menguntungkan bagi pihak yang sedang kalah dan berniat untuk bangkit memenangkan pertandingan.

Maka dari itu biasanya wasit dalam pertandingan sepakbola memberikan waktu tambahan usai waku normal selesai. Tambahan waktu atau biasa kita kenal sebagai injury time diberikan wasit dengan tujuan untuk mengkompensasi waktu yang terbuang akibat terhentinya pertandingan sesaat. Waktu tambahan biasanya diberikan sekitar 1-4 menit pada setiap pertandingan.

Ada beberapa contoh insiden yang kerap melibatkan wasit dalam suatu pertandingan dalam hal injury time ini. Pernah dalam suatu pertandingan, wasit memberikan injury time yang tidak wajar. Padahal ini merupakan laga penentuan (saat itu kedudukan 1-1, tim A berpeluang menang jika ada babak tambahan), namun wasit memberikan injury time hingga 12 menit pada saat itu. Akhirnya tim B berhasil mencetak gol kemenangan. Disini dapat kita lihat betapa keputusan wasit sangat krusial dalam suatu pertandingan.

Dalam olahraga futsal, digunakanlah seorang Time Keeper yang bertugas khusus untuk masalah durasi pertandingan. Time keeper menghentikan waktu saat wasit utama menghentikan (bola keluar,pelanggaran,gol,dll). Secara sistemik sebenarnya keberadaan seorang time keeper dalam sebuah pertandingan sangatlah berguna, namun hal itu juga yang menjadikanya sebagai kekurangan.

Bayangkan saja saat anda bertanding dan tau bahwa beberapa saat lagi laga berakhir dan anda tau begitu waktu habis maka selesai pula perjuangan anda. Tentu ini akan melunturkan semangat para pemain yang selalu berjuang hingga detik terakhir tidak peduli biarpun pertandingan hanya tersisa tidak sampai satu detik lagi. Dan itu lah mengapa futsal masih belum bisa melangkahi popularitas saudara tertua mereka, sepakbola.

Justinus Lhaksana, Pria Dibalik Kesuksesan Timnas Futsal Indonesia

Justinus Lhaksana, sosok dibalik kesuksesan tim nasional futsal Indonesia

Kesuksesan sebuah tim  tidak lepas dari peran sang pelatih. Meski memiliki segudang materi pemain kelas atas, tanpa racikan seorang pelatih hebat sebuah tim hanyalah sekumpulan pemain yang tak tau arah. Tugas pelatih dalam mengarahkan tim menjadi hal yang sangat vital, dan tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk mengemban tugas seorang pelatih.

Adalah Justinus Lhaksana, sosok  yang sukses membawa tim nasional futsal Indonesia meraih medali perungu dalam perhelatan SEA Game 2007 di Thailand. Pria yang sempat menimba ilmu di Belanda  selama 15 tahun ini berhasil meraih sertifikat kepelatihan yang diterbitkan oleh KNVB serta menangani klub Divisi Utama di Liga Belanda.

Berniat untuk mengaplikasikan ilmu nya pada dunia perfutsalan tanah air, Justinus pun akhirnya pulang dan menangani tim nasional futsal Indonesia. Meskipun sempat dipandang sebelah mata, akhirnya pria kelahiran Surabaya 28 Juli 1967 tersebut mampu membawa timnas futsal tanah air meraih tempat ketiga di SEA Games Thailand.

Memfutsalkan Indonesia ala Justinus

Justinus berhasil mengharumkan nama bangsa di ajang SEA GAMES 2007 Thailand

Justinus berhasil mengharumkan nama bangsa di ajang SEA GAMES 2007 Thailand

Dalam proses perkembangan futsal di Indonesia, Justinus Lhaksana mempunyai peranan yang sangat besar. Lewat prestasinya bersama timnas serta klub-klub futsal lokal, bisa dibilang Justinus berhasil memfutsalkan Indonesia. Selain berkarir sebagai seorang pelatih, Justinus Lhaksana sempat menjabat sebagai pengurus yayasan Indonesia Futsal Mandiri (IFM).

Selain mengurus  yayasan tersebut, Justinus juga menekuni karir di bidang menulis. Pria asal Surabaya tersebut menyusun buku-buku tentang futsal, menjadi komentator pertandingan sepakbola/futsal serta mengurus sebuah akademi futsal. Dia mendedikasikan hidupnya 100% untuk futsal dan untuk Indonesia.

Dan dalam sebuah wawancara, Justinus mengatakan bahwa dirinya berharap bisa memajukan futsal Indonesia. Dirinya berharap bisa memnyelenggarakan setidaknya tiga kompetisi futsal domestik untuk menggali talenta-talenta muda yang potensial. Justinus juga mempunyai mimpi bahwa setidaknya timnas u-17 dan u-23 futsal mampu menembus kompetisi tingkat dunia.

Namun melihat pengelolaan yang dikerjakan Badan Futsal Nasional (BFN) dan Badan Futsal Daerah (BFD), Justinus Lhaksana mengakui masih akan menemui kesulitan dalam pengaktualisasian mimpi-mimpinya tersebut. Dirinya memandang buruknya kualitas Liga Futsal Indonesia (LFI) binaan BFN dan BFD masih menjadi hambatan untuk membawa futsal Indonesia ke level yang lebih tinggi.

Justinus Sebut PSSI Tak Punya Visi dan Misi

Justinus Lhaksana, sosok dibalik kesuksesan tim nasional futsal Indonesia

Justinus Lhaksana, sosok dibalik kesuksesan tim nasional futsal Indonesia

Dalam sebuah kesempatan, sebuah media online sempat melakukan wawancara kepada Justinus Lhaksana. Justin mengkritik kinerja badan sepakbola Indonesia tersebut yag dinilai tidak mendukung perkembangan futsal di Indonesia. Padahal Pria yang tak lagi menangani skuad tim nasional futsal tersebut menilai bahwa olahraga futsal memiliki masa depan yang cerah di Indonesia.

Justin menganggap bahwa PSSI tidak mempunyai visi dan misi yang konkrit dalam hal memajukan tim nasional futsal Indonesia. Hal ini bisa jadi disebabkan lantaran beliau melihat perbedaan yang sangat kontras terhadap bagaimana pengelolaan KNVB terhadap bibit pemain mereka. Berikut  adalah pernyataan Justin yang kebetulan sedang berada di sebuah arena futsal di daerah Bekasi, Jawa Barat.

“Ya begitulah cara kerja asosiasi sepakbola kita (PSSI). Para pemain kembali dipulangkan usai turnamen dan baru akan dikumpulkan lagi jelang turnamen. Kalau begini bagaimana kita bis memajukan tim nasional futsal kita? Mau mengandalkan kompetisi domestik? Sedangkan dalam pelaksanaan kompetisinya saja di sini begitu buruk, tidak berkualitas dan sangat tak profesional.” ujar Justin.

“Di sini kita tidak perlu menjadikan masalah finansial sebagai alasan. Sekarang hanya dari diri kita masing-masing saja, apa kita mau atau tidak. Mereka (PSSI) adalah badan, mereka menaungi, membina tapi tak ada visi dan misi. Jadi ya kami semua bisa apa?”

Sesuaikan Tipe Sepatu Futsal Dengan Gayamu

Sepatu Futsal

Futsal merupakan salah satu cabang olahraga yang juga banyak digemari oleh masyarakat luas. Karena jenis olahraga ini pada dasarnya sama dengan sepakbola, hanya yang membedakannya adalah ukuran lapangan, beberapa aturan dalam memainkannya dan tentu bola itu sendiri, serta beberapa hal lainnya.

Sepatu Futsal

Sepatu futsal harus disesuaikan dengan tipikal pemain

Di Indonesia sendiri, olahraga ini sedang naik daun. Banyak masyarakat luas dari berbagai kalangan, mulai dari para pekerja, pelajar dan mahasiswa. Bahkan, tak hanya kaum pria saja yang memainkan olahraga futsal, tetapi juga kaum wanita terpincut untuk juga memainkan futsal, sama halnya dengan sepakbola.

Dalam bermain futsal, tentu kita harus menggunakan berbagai peralatan layaknya olahraga lainnya, mulai dari mengenakan seragam, pelindung hingga sepatu. Namun, tahukah kalian bahwa sepatu futsal memiliki tiga varian tipe? Dimana ketiga tipikal tersebut disesuaikan dengan karakter pemain itu sendiri. Berikut, ulasan seleangkapnya.

  • Tipe Passer

Apabila kalian tipe pemain yang mengedepankan untuk selalu memberikan umpan-umpan panjang maupun pendek atau dengan kata lain sebagai seorang kreator untuk rekan yang berposisi sebagai striker, maka ada baiknya kalian memilih sepatu futsal dengan tipe passer. Pemain dengan tipikal tersebut juga dapat disebut sebagai playmaker.

Sepatu futsal bertipe passer memiliki struktur sol (bagian dibawah sepatu) yang lebar dan kuat. Dengan begitu, pemain bertipe playmaker akan dengan mudah mengumpan bola ke arah yang ingin dituju secara baik dan mudah. Beberapa sepatu dengan jenis tersebut yaitu Umbra Five, Nike CTR, Nike Gato, Adidas Telstar dan lain sebagainya.

  • Tipikal Dribbler atau Controller

Tipikal yang kedua ini tak berbeda jauh dengan tipe passer, dimana lebih untuk kemampuan mengontrol maupun mendribbler bola. Sepatu jenis ini lebih ringan dan begitu nyaman di kaki, sehingga terasa tidak menggunakan sepatu.

Dengan begitu, memudahkan para pemain futsal untuk mengatur ritme pertandingan. Adapun sejumlah sepatu futsal yang bertipe dribbler atau controller yakni Nike Tiempo, Nike Five Series dan Specs Tempaya.

  • Tipikal Shooter

Sesuai dengan namanya, sepatu bertipe shooter sangat cocok untuk kalian yang berjiwa sebagai striker. Dimana memang seoarng penyerang bertugas untuk mengobrak-abrik lini pertahanan lawan dan mencetak gol. Sepatu jenis ini begitu kuat di setiap sisi-sisinya. Sehingga akan memberikan tendangan yang kencang dan terarah dengan baik serta tak cepat rusak.

Untuk kalian yang bertipe penyerang yang cara shooting dengan menconcong, maka pilihlah sepatu yang terbilang lebih panjang dan tidak terlalu ketat di ujung kaki. Berikut beberapa tipe sepatu shooter yakni diataranya Nike Mercurial, Joma Toplex, Adidas Predator.

Sepatu Yang Dikenakan Falcao Pemain Terbaik Sepanjang Masa

Para penikmat olahraga futsal tentu mengenal dengan nama Falcao. Ia merupakan pemain futsal terbaik sepanjang masa. Bahkan, sejumlah masyarakat menyebutkan bahwa dirinya merupakan gabungan dari Maradona, Pele, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo dalam dunia futsal.

Sepatu yang sesuai akan memaksimalkan kemampuan bermain futsal anda

Sepatu yang sesuai akan memaksimalkan kemampuan bermain futsal anda

Pemain asal Brasil tersebut sukses meraih gelar di level klub sebanyak 33 trofi dan 25 gelar di level internasional. Namun, sepatu yang dikenakan Falcao bukanlah Adidas ataupun Nike, melainkan Umbro jenis 4 Pro IC. Sepatu tersebut hanya memiliki berat 213 grams saja. Sehingga begitu ringan ketika digunakan.

Umbro 4 Pro IC

Sepatu yang dikenakan oleh Falcao ini telah dilengkapi dengan jala bernapas dibagian atas sepatu. Sehingga sirkulasi udara berjalan baik demi kesehatan sang kaki pemain.

Umbro 4 Pro IC

Umbro 4 Pro IC memiliki keunggulan yang terletak di bagian sol dan dilengkapi dengan jala bernapas

Umbro 4 Pro IC ini menggunakan outsole profil yang terbilang rendah dengan kompresi yang berbentuk EVA. Hal tersebut membuat sepatu begitu nyaman dan bola begitu mudah untuk dikontrol.