Justinus Lhaksana, Pria Dibalik Kesuksesan Timnas Futsal Indonesia

Justinus Lhaksana, sosok dibalik kesuksesan tim nasional futsal Indonesia

Kesuksesan sebuah tim  tidak lepas dari peran sang pelatih. Meski memiliki segudang materi pemain kelas atas, tanpa racikan seorang pelatih hebat sebuah tim hanyalah sekumpulan pemain yang tak tau arah. Tugas pelatih dalam mengarahkan tim menjadi hal yang sangat vital, dan tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk mengemban tugas seorang pelatih.

Adalah Justinus Lhaksana, sosok  yang sukses membawa tim nasional futsal Indonesia meraih medali perungu dalam perhelatan SEA Game 2007 di Thailand. Pria yang sempat menimba ilmu di Belanda  selama 15 tahun ini berhasil meraih sertifikat kepelatihan yang diterbitkan oleh KNVB serta menangani klub Divisi Utama di Liga Belanda.

Berniat untuk mengaplikasikan ilmu nya pada dunia perfutsalan tanah air, Justinus pun akhirnya pulang dan menangani tim nasional futsal Indonesia. Meskipun sempat dipandang sebelah mata, akhirnya pria kelahiran Surabaya 28 Juli 1967 tersebut mampu membawa timnas futsal tanah air meraih tempat ketiga di SEA Games Thailand.

Memfutsalkan Indonesia ala Justinus

Justinus berhasil mengharumkan nama bangsa di ajang SEA GAMES 2007 Thailand

Justinus berhasil mengharumkan nama bangsa di ajang SEA GAMES 2007 Thailand

Dalam proses perkembangan futsal di Indonesia, Justinus Lhaksana mempunyai peranan yang sangat besar. Lewat prestasinya bersama timnas serta klub-klub futsal lokal, bisa dibilang Justinus berhasil memfutsalkan Indonesia. Selain berkarir sebagai seorang pelatih, Justinus Lhaksana sempat menjabat sebagai pengurus yayasan Indonesia Futsal Mandiri (IFM).

Selain mengurus  yayasan tersebut, Justinus juga menekuni karir di bidang menulis. Pria asal Surabaya tersebut menyusun buku-buku tentang futsal, menjadi komentator pertandingan sepakbola/futsal serta mengurus sebuah akademi futsal. Dia mendedikasikan hidupnya 100% untuk futsal dan untuk Indonesia.

Dan dalam sebuah wawancara, Justinus mengatakan bahwa dirinya berharap bisa memajukan futsal Indonesia. Dirinya berharap bisa memnyelenggarakan setidaknya tiga kompetisi futsal domestik untuk menggali talenta-talenta muda yang potensial. Justinus juga mempunyai mimpi bahwa setidaknya timnas u-17 dan u-23 futsal mampu menembus kompetisi tingkat dunia.

Namun melihat pengelolaan yang dikerjakan Badan Futsal Nasional (BFN) dan Badan Futsal Daerah (BFD), Justinus Lhaksana mengakui masih akan menemui kesulitan dalam pengaktualisasian mimpi-mimpinya tersebut. Dirinya memandang buruknya kualitas Liga Futsal Indonesia (LFI) binaan BFN dan BFD masih menjadi hambatan untuk membawa futsal Indonesia ke level yang lebih tinggi.

Justinus Sebut PSSI Tak Punya Visi dan Misi

Justinus Lhaksana, sosok dibalik kesuksesan tim nasional futsal Indonesia

Justinus Lhaksana, sosok dibalik kesuksesan tim nasional futsal Indonesia

Dalam sebuah kesempatan, sebuah media online sempat melakukan wawancara kepada Justinus Lhaksana. Justin mengkritik kinerja badan sepakbola Indonesia tersebut yag dinilai tidak mendukung perkembangan futsal di Indonesia. Padahal Pria yang tak lagi menangani skuad tim nasional futsal tersebut menilai bahwa olahraga futsal memiliki masa depan yang cerah di Indonesia.

Justin menganggap bahwa PSSI tidak mempunyai visi dan misi yang konkrit dalam hal memajukan tim nasional futsal Indonesia. Hal ini bisa jadi disebabkan lantaran beliau melihat perbedaan yang sangat kontras terhadap bagaimana pengelolaan KNVB terhadap bibit pemain mereka. Berikut  adalah pernyataan Justin yang kebetulan sedang berada di sebuah arena futsal di daerah Bekasi, Jawa Barat.

“Ya begitulah cara kerja asosiasi sepakbola kita (PSSI). Para pemain kembali dipulangkan usai turnamen dan baru akan dikumpulkan lagi jelang turnamen. Kalau begini bagaimana kita bis memajukan tim nasional futsal kita? Mau mengandalkan kompetisi domestik? Sedangkan dalam pelaksanaan kompetisinya saja di sini begitu buruk, tidak berkualitas dan sangat tak profesional.” ujar Justin.

“Di sini kita tidak perlu menjadikan masalah finansial sebagai alasan. Sekarang hanya dari diri kita masing-masing saja, apa kita mau atau tidak. Mereka (PSSI) adalah badan, mereka menaungi, membina tapi tak ada visi dan misi. Jadi ya kami semua bisa apa?”